Ekonomi Kreatif Diharapkan Menjadi Primadona Penggerak Perekonomian Indonesia

Bandung, UPI

Ekonomi kreatif (ekraf) merupakan kegiatan ekonomi yang dilandasi oleh kreativitas dan inovasi yang terus-menerus. Dengan kreativitas dan inovasi akan menghindarkan kita dari sifat kejenuhan. Ekonomi kreatif tergambar dari kemauan dan kemampuan untuk memulai usaha, menciptakan sesuatu yang baru atau dari sesuatu yang sudah lama ada menjadi produk yang baru, unik dan berdaya guna, memiliki jiwa kewirausahaan, mampu mengembangkan ide dan sumber daya yang ada, semangat yang terpancar serta mampu bangkit dari kegagalan.

Perkembangan ekraf yang ramai dibicarakan sejak kampanye pilpres 2014 lalu, telah mendorong terselenggaranya Kuliah Umum di lingkungan Civitas Akademika Prodi Ilmu Ekonomi dan Keuangan Islam, FPEB UPI yang bertajuk “Ekonomi Kreatif, Ekonomi Baru: Mengubah Ide dan Menciptakan Peluang” yang juga merupakan judul buku buah karya dari salah satu narasumber Kuliah Perdana tersebut yang juga penulis buku terbaik ke-3 Nasional tahun 2014 ini versi Perpusnas (Perpustakaan Nasional).

“Penyelenggaraan kuliah umum di prodi ini sudah dirancang dari dulu, ini bukan hal yang pertama kali, kita akan menjadikan kuliah umum ini sebagai budaya akademik di lingkungan Prodi IEKI, baik pada saat awal masuk perkuliahan maupun pada saat perayaan dies natalis Prodi IEKI”. Kata Dr. A. Jajang W. Mahri, M.Si., Ketua Prodi Ilmu Ekonomi dan Keuangan Islam FPEB UPI, dalam sambutannya di Gedung Geugeut Winda PKM Lt. 2.

Kuliah umum yang diadakan hari Senin, 02 Februari 2015 ini dihadiri juga oleh Dr. H. Edi Suryadi, M.Si. Dekan Fakultas Pendidikan Ekonomi dan Bisnis, Dosen-Dosen Fakultas Pendidikan Ekonomi dan Bisnis, serta Dosen dan Mahasiswa Prodi Ilmu Ekonomi dan Keuangan Islam.

Acara semakin menarik dan menyita perhatian semua pihak dengan hadirnya dua pemateri yang ahli di bidangnya yaitu Prof. Dr. H. Suryana, M. Si. (Guru Besar Kewirausahaan dan Ekonomi Kreatif FPEB UPI) dan Riska Rahmatiana, S. Kom. (Pemenang Wirausaha Muda Mandiri Bank Mandiri dan Owner Es Pisang Ijo Justmine).

Dalam paparannya Prof. Dr. H. Suryana, M. Si. menyatakan bahwa berfikir kreatif dalam ekonomi ini harus sudah biasa dilakukan oleh segenap bangsa Indonesia, banyak negara-negara di luar sana yang maju dan sejahtera akibat dari berfikir kreatif yang memunculkan ide cemerlang. Jenis-jenis creativepreneur antara lain business creativepreneur, government creativepreneur, academic creativepreneur dan Terlebih kegiatan ekonomi yang dilaksanakan berbasis ekonomi Islam yang berkeadilan, jujur dan berkah. Dalam ekonomi kreatif yang dijual adalah gagasan.

ieki 2Narasumber yang produktif menulis buku dan banyak mendapatkan penghargaan sekaligus penulis buku terbaik ke-3 Nasional tahun 2014 versi Perpusnas (Perpustakaan Nasional) ini meyakinkan mahasiswa bahwa ekonomi kreatif yang berbasis syariah lah yang ditunggu-tunggu.

Paparan berikutnya disampaikan oleh seorang Business Woman yang luar biasa. Riska Rahmatiana, S. Kom. membagi pengalamannya dengan peserta kuliah umum dari mulai usahanya yang jatuh bangun sampai meraih kesuksesan. Ceritanya membuat dan menggugah semangat terutama bagi mahasiswa untuk menjadi entrepreneur. Ia mengemukakan tidak ada alasan bagi seorang mahasiswa mendapatkan IPK kecil dikarenakan ia berbisnis. Ibu muda dari dua anak ini telah membuktikannya sendiri bahwasanya dengan izin Allah SWT bisnisnya lancar dan bisa lulus dengan IPK berpredikat cum laude.

Perempuan hebat ini bukan hanya berbagi mengenai produk bisnis yang uniknya, melainkan juga berbagi hikmah kehidupan yang sudah dialaminya. Ia pernah mengalami jatuh bangun bisnis, aset-aset bisnis disita sampai ditipu yang nilainya lebih dari ratusan juta rupiah karena satu sumber penyakit. Ia dengan tegas, lantang dan meyakini bahwa sumber malapetakanya adalah dari riba. Dalam memulai bisnisnya, ia sendiri meminjam dana ke bank konvensional yang berbasis bunga. Ia akhirnya tersadar bahwa bunga itu termasuk dalam kategori riba dan dampaknya sangat mengerikan sekali apalagi siksa di akhirat kelak. Ia dengan tegas menyatakan bahwa ribalah sumber ketidakberkahan dalam bisnisnya. Ia memulai dengan modal sendiri yang bersih dan jauh dari harta riba dan dijalankan dengan akad atau skema yang sesuai syariat Islam. Alhasil kesuksesan diraihnya kini dengan memiliki 400 cabang Es Pisang Ijo Justmine di seluruh Indonesia.

Paparan kedua pemateri itu semakin membuat semangat peserta yang hadir. Mahasiswa Prodi IEKI ini diharapkan mampu mengikuti jejak-jejaknya serta menjadi solusi terhadap permasalahan ekonomi yang ada. Terlebih dengan dibentuknya Badan Ekonomi Kreatif, tentu harapan kita semua, ekonomi kreatif akan menjadi salah satu primadona penggerak perekonomian Indonesia untuk lima tahun ke depan dan siap menyongsong Masyarakat Ekonomi ASEAN dan pasar global di masa yang akan datang. (Mumuh Muhammad)

Sumber: Berita UPI