Prodi Kependidikan dan NonKependidikan Saling Menguatkan

LAHIRNYA Undang-Undang Guru dan Dosen memungkinkan pengisian tenaga guru pendidik tak lagi didomi-nasi oleh lulusan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK). Namun, seiring dengan program sertifikasi guru, justru belakangan bermunculan program studi ke-guruan sehingga banyak tumbuh “LPTK” baru.

Bagi Universitas Pendidikan Indonesia, salah satu untuk tidak mengatakan satu-sa-tunya LPTK utama saat ini, keputusan untuk juga membuka prodi nonkependidikan tetap merupakan opsi terbaik. “Pendidikan tetap menjadi inti atau kajian utama di UPI. Seluruh kebijakan program dan prioritas di-arahkan pada bidang kependidikan. Namun, kita juga tetap berupaya terus meningkatkan kualitas prodi nonkependidikan. Inilah yang kami sebut sebagai cross fertilization” ungkap Wakil Rektor Bidang Keuangan, Sumber Daya, dan Administrasi Umum Edi Suryadi (55) saat bersama Rektor UPI Furqon dan unsur pimpinan UPI lainnya berkunjung ke Aula Harian Umum Pikiran Rakyat Bandung, beberapa waktu lalu.

Dengan demikian, menurut Edi yang sem-pat menjadi Dekan Fakultas Pendidikan Ekonomi dan Bisnis UPI ini, terjadi meka-nisme yang saling menguatkan antarprodi. “Pada akhirnya, misi dan visi UPI adalah melahirkan lulusan yang memiliki karakter dan kualitas tersendiri yang membedakan-nya dengan sarjana lulusan dari lembaga pendidikan yang lain,” kata Edi.

Setiap lulusan UPI, selain menguasai sub-stansi materi keilmuan sesuai prodi, juga di-harapkan memiliki kompetensi sebagai pen-didik. la memisalkan sarjana ekonomi UPI. “Selain memiliki kapasitas keilmuan ekonomi, sentuhan pedagogik dalam dirinya di-harapkan bisa memaksimalkan kualitas dirinya di masyarakat,” ucapnya. (Erwin Kustiman/”PR”)***

Sumber: Pikiran Rakyat (Rabu, Pahing, 9 Desember 2015)