Pentingnya Kreativitas dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan

Salah satu keresahan yang muncul kepermukaan akhir-akhir ini adalah rendahnya mutu pendidikan. Ini tampak pada lulusan-lulusan yang kurang mampu menghadapi tantangan zaman yang sering disoroti oleh masyarakat pemakai lulusan tersebut. Sudah banyak upaya yang dilakukan untuk mengatasi masalah itu, seperti penyelenggaraan penataran-penataran untuk para tenaga pengajar, pemberian pendidikan tambahan kepada para tenaga pengajar, baik yang berlangsung di dalam maupun di luar negeri, pengubahan kurikulum, penyelenggaraan seminar-seminar, dan sebagainya. Namun masalah sangat cepat akan membuat keadaan itu lebih parah jika tidak diantisipasi dengan cepat dan tepat, karena akan memperlebar jurang pemisah antara yang seharusnya diketahui para peserta didik dan yang diketahuinya. Setiap hari informasi melimpah, terutama melalui media cetak seperti surat kabar, buku, dan majalah. Ini telah melahirkan revolusi informasi yang oleh Toffler (1988:29) diistilahkan dengan the third wave (gelombang ketiga). Keadaan ini harus dihadapi oleh para peserta didik di Negara kita dengan persiapan yang memadai dan kemampuan beradaptasi yang inovatif dan kreatif agar mereka tidak menjadi lulusan yang dihanyutkan oleh gelombang informasi ke dalam lembah kebodohan dan dapat terhindar dari future shock.

Gejala tentang rendahnya mutu pendidikan dewasa ini, diantaranya muncul dalam bentuk rendahnya kreativitas para lulusan yang diduga merupakan cerminan dari tingkat berpikirnya yang rendah. Sudah tentu ini merupakan produk pendidikan dari sistem pendidikan yang kurang atau bahkan tidak mengembangkan keseluruhan dimensi psikologis individu, baik dimensi kognitif, afektif, kognitif, maupun psikomotorik. Dimensi psikologis yang tampaknya kurang mendapat perhatian dari sistem pendidikan dewasa ini adalah aspek kreativitas. Padahal kreativitas individu dalam era globalisasi dan informasi yang ditandai oleh kompleksitas kehidupan manusia sebagaimana dilukiskan oleh Toffler sangat dibutuhkan. Sebab kreativitas dapat melahirkan inovasi yang mengendap dalam manifestasi budaya. Melalui kreativitas itulah kehidupan manusia menjadi penuh makna.

Pentingnya kreativitas atau kemampuan berpikir kreatif dalam kaitannya dengan upaya peningkatan mutu pendidikan memang sangat logis, sebagaimana dikatakan oleh Costa Berthur L. (ed) (1985) bahwa kemampuan berpikir kreatif dianggap sebagai sumber yang amat vital bagi suatu bangsa. Oleh karena itu sistem pendidikan (formal, nonformal, informal) hendaknya ditujukan untuk mengembangkan kualitas berpikir anak agar dalam proses perkembangan kognitif dan inteligensinya memperoleh peluang secara optimal pula.

Jika diamati secara seksama sistem pendidikan yang di kembangkan dewasa ini dalam kaitannya dengan upaya pengembangan kemampuan berpikir kreatif anak sering dipertanyakan. R. Ibrahim (1990), mengatakan bahwa sistem pendidikan dewasa ini belum memadai, sebab masih terperangkap pada pencapaian aspek-aspek tertentu saja dari tujuan pendidikan nasional, belum banyak berbuat dalam mengembangkan manusia seutuhnya, yakni manusia Indonesia yang berkualitas. Dalam kaitan ini Sanusi (1992) mengatakan bahwa praktek-praktek pendidikan, termasuk di Indonesia belum optimal dalam mendorong munculnya anak/siswa yang kreatif, inovatif, dan trampil. Perilaku-perilaku kreatif yang tumbuh dalam iklim kehidupan keluarga maupun sekolah, masih belum banyak mendapat perhatian. Padahal, sekolah, sebagai institusi formal dan keluarga sebagai institusi informal mempunyai peran dan fungsi yang sangat strategis dalam rangka memunculkan perilaku-perilaku kreatif anak.

Secara statistik anak yang mempunyai tingkat kreativitas tinggi cukup banyak jumlahnya. Diperkirakan sebanyak 2,2% dari keseluruhan populasi (SCU, Munandar, 1982:4). Maksudnya adalah sebanyak 2,2% dari jumlah keseluruhan kelompok usia anak, termasuk anak yang kreatif. Hasil penelitian Moch. Surya (1979:379) menunjukkan bahwa: ‘’Sekitar sepertiga dari seluruh siswa memiliki potensi yang tergolong tinggi. Meskipun sebenarnya mereka ini diharapkan dapat berprestasi tinggi akan tetapi kenyataannya menunjukkan bahwa tidak semua siswa yang berpotensi tinggi berprestasi tinggi. Sekitar sepertiga dari yang berpotensi tinggi atau sekitar sepuluh dari seluruh siswa tergolong rendah dalam prestasi belajarnya. Mereka ini dinamakan siswa berprestasi kurang’’.

Dugaan sementara dapat dikemukakan, bahwa pertama yang banyak dikembangkan melalui pendidikan dewasa ini adalah kemampuan berpikir linier, eksak, dan logis. Fungsi-fungsi otak belahan kiri (left hemisphere) seperti kemampuan berpikir linier, eksak, rasional, penalaran (Clark, 1983) sebagai manifestasi kemampuan berpikir konvergen (Guilford,1985) mendapat tekanan yang kuat dalam praktek-praktek pendidikan. Sementara itu fungsi-fungsi otak belahan kanan (right hemisphere) yang menyangkut kemampuan berpikir holistic, gestalt, imajinatif, intuitif, kreatif masih kurang mendapat perhatian. Kedua diduga pula bahwa diantara mereka belum sepenuhnya mendapat layanan pendidikan yang memadai untuk dapat mengembangkan potensinya secara optimal, sehingga mereka cenderung menjadi siswa berprestasi di bawah potensinya. Di pandang dari ilmu komunikasi, dugaan tersebut sangat beralasan, sebab kenyataan menunjukkan bahwa Proses Belajar Mengajar (PBM) dewasa ini lebih mengutamakan komunikasi instruksional (linier communication, one way communication) yang menempatkan komunikator (pendidik) pada posisi yang sangat dominan. Kondisi seperti ini bukan mustahil akan membawa kepada situasi dimana kreativitas anak tidak akan berkembang secara optimal , bahkan lebih jauh lagi akan terbunuh.

Sejalan dengan permasalahan di atas, menurut Yuyun S. (1990:3) terdapat dua pilihan yang dapat ditempuh, yakni ‘’pertama dengan jalan meningkatkan pendidikan, mengandung makna bahwa proses pendidikan harus diarahkan kepada pengembangan potensi-potensi terbaik secara optimal dan mengacu kepada norma-norma kedewasaan. Upaya pengembangan potensi-potensi terbaik tersebut, (termasuk di dalamnya potensi kreatif) dalam rangka menciptakan manusia Indonesia yang berkualitas. Berpikir keilmuan adalah identik dengan berpikir kreatif, yakni berpikir tingkat tinggi (higher thinking process) guna mencari pemecahan-pemecahan baru yang progresif dan konstruktif dalam berbagai sektor kehidupan, dengan tujuan meningkatkan martabat kehidupan

Di beberapa negara maju pendekatan berpikir kreatif sudah lama dijadikan alternatif pendekatan dalam memecahkan mutu pendidikan. Bahkan di Amerika Serikat, telah lama dijadikan ajang penelitian baik dalam ‘’Social Studies’’, maupun ‘’Social Education’’. Di Indonesia hal ini tampaknya belum banyak diungkap meskipun kondisinya sudah menuntut. Berkaitan dengan itu, perlu dilakukan penelitian di lapangan ini, sebab kualitas pendidikan kita banyak ditentukan oleh kualitas penumbuhan berpikir

Dalam kaitan ini, Karen Tosen Blum Cole dalam tulisannya berjudul ‘’Teaching Skills: Social Studies’’, dalam Suwarma (1993:14) menyatakan bahwa salah satu tugas sekolah ‘’. . . is to teach children how to think’’. Selanjutnya diajukan pertanyaan tentang berpikir kaitannya dengan belajar (learning), penalaran (reasoning), intuisi (intuition), wawasan (insight), dan imajinasi (imagination), apakah berpikir itu suatu proses yang berlaku umum, ataukah hanya untuk orang-orang berbakat saja (gifted) dan bagaimana peranan guru sebagai pengambilan inisiatif (inisiator), pemberi fasilitas belajar (facilitator), dan juga tentunya sebagai penyampai pesan (communicator). Persoalan tersebut menurut Karen sangan tenting untuk dibahas.